Suara Malaikat Kecil Dari Cipayung







Foto Dan Artikel Oleh : Ryan Botax

Kita punya mimpi. Begitu pun anak-anak di panti asuhan tunas bangsa ini. Mereka ditelantarkan orang tuanya. Dilempar ke dunia yang bising seorang diri. Mereka hidup bersama puluhan anak dengan latar belakang sama, dibuang dan dipaksa untuk hidup tanpa kasih sayang orang tua.

Jangan pernah bunuh mimpi mereka!

Sabtu (7/1/2012), saya bersama teman-teman Gempita main ke Panti Asuhan Tunas Bangsa, Cipayung. Tempat yang cukup teduh bagi 63 anak bibit bangsa yang dipaksa pergi jauh dari kehidupan layak, hidup tanpa keluarga. Mereka kehilangan kasih, yang mereka harapkan. Kehilangan sentuhan yang mereka inginkan. Kehilangan figur yang kelak mereka banggakan, orang tua. 

Jati, balita 4 tahun langsung menubruk saya, sesaat setelah saya membuka pintu kamar tempat 20an anak usia 2,5 sampai 5 tahun itu tinggal. Bukan hanya Jati, 10-an anak menarik-narik saya untuk minta digendong. "Botaaaak botaaaakkk botaaaakkk," teriak mereka. Saya pun mendapat serbuan berupa keplakan ke kepala berkali-kali. Kalau yang mengeplak saya adalah orang sebaya yang tidak akrab, ataupun polisi sok aksi mungkin kepalan tangan saya yang akan melayang ke mukanya. Tapi ini beda, keplakan malaikat-malaikat kecil ini serasa elusan hangat bagi saya. Mereka butuh kasih sayang, bukan hujatan ataupun cercaan. Dan saya pun larut dalam suasana riang. Tak lama, jam makan pun tiba, dan mereka menyerbu ruang makan.

Selama berada di sana saya merenung, betapa beruntungnya kita yang hidup dengan orang tua, minta ini itu mudah, makanan tersedia di meja, kamar personal ada. Dengan segala kelebihan pun kita cenderung masih kurang puas, membentak orang tua pun kita lakukan demi menyatakan bahwa kita yang paling benar. Sedangkan mereka, dipaksa untuk menghirup udara panti, dan tak tahu kemana perginya orang tua mereka dan dengan alasan apa mereka dibuang. Kalau mau marah, mereka lah yang seharusnya marah ke orang tua mereka kelak nanti.

Pelajaran berharga hari itu bukan karena kita menyisihkan pendapatan kita untuk menyerahkan bantuan ke panti, tetapi makna keceriaan yang selalu dipancarkan oleh wajah-wajah tanpa dosa ini. Kita sudah terlalu muak membayangkan kondisi politik Indonesia yang carut marut, kehidupan sosial pun sudah membusuk seiring dengan jurang pemisah yang lebar antara si miskin dan si kaya. Sudah waktunya kita menyadarkan diri kita untuk menghirup udara-udara sosial yang tadinya dibekap oleh jabatan, jenjang karier, dan harta. Sadari, di sekitar masih banyak teman-teman yang tidak seberuntung kita.

Saya yakin, 63 anak di sini dan jutaan di luar sana punya mimpi. Merekalah bibit muda penerus bangsa ini yang kelak akan menjadi Hatta, Gusdur, Munir, Widji Thukul, Sri Mulyani, Kartini, Jokowi, Anies Baswedan atau Iwan Fals generasi baru. Merekalah yang kelak menggubah nada-nada Indonesia Raya menjadi sebuah lagu yang tidak hanya pantas didengar kala upacara. Mereka yang akan membuat undang-undang dasar 45 lebih bermakna dari sebuah tulisan tempelan. Mereka yang akan menjadikan burung garuda terbang tinggi mengepakkan sayapnya, dari sekedar sebuah hiasan dinding dan berdebu pada masa orde baru. Mereka yang akan kelak membumikan pancasila dari sekedar omong kosong belaka dan silat lidah anggota DPR dan pejabat. Dan Mereka yang akan mengevaluasi dan menjalankan perjuangan reformasi yang telah dilakukan setengah hati oleh orang-orang yang berteriak dan sekarang nyaman duduk di kursi. Ya mereka!

(dipublish juga di http://www.suduthampa.blogspot.com/)