Penyaluran sumbangan untuk Merapi

Foto oleh : GEMPITA.org



(Masih) Ada Senyuman di Benhil





Artikel oleh : Ryan A. Syakur

Rumah terbakar tersisa pondasi. Harta benda lainnya sudah hangus menjadi abu. Sejentik senyuman yang merekah di bibir anak-anak Karet Tengsin, Benhil pertanda masih ada harapan.

Berita kebakaran di Karet Tengsin, Bendungan Hilir (Benhil) masih terngiang dalam ingatan kami Gempita (Generasi Muda Pencinta Indonesia). Betapa tidak, kawasan tersebut merupakan rute sehari-hari menuju kantor saya dan beberapa di antara kami. Lantas kami pun mencari tahu apa yang terjadi di sana.

Setelah kami mengakses beberapa portal berita online didapatkan informasi bahwa kebakaran terjadi karena meledaknya ponsel yang sedang di-charge dari salah satu rumah warga. Percikan api  menjalar cepat. Total 480 sampai 560 rumah warga habis terbakar si jago merah. Sedihnya lagi, warga harus ada yang mengungsi di atas makam TPU Karet Tengsin. Jujur, kami sebenarnya belum memahami pasti lokasi kebakaran. Memang di belakang pemakaman ada pemukiman warga, tapi jelasnya seperti apa kehidupan di sana kami belum secara detail mengetahuinya.

Inilah yang membuat hati kami tersentak untuk terjun ke lokasi. Bayangkan, di saat orang lainnya melaksanakan ibadah puasa dan ibadah lainnya sepanjang Ramadhan, warga Jalan Kalimati ini harus puas meratapi nasibnya dengan melihat langsung rumah dan harta benda mereka dilalap si jago merah. Ini jelas tidak adil. Ya, tidak adil jika kita cukup nyaman berbuka puasa, sedangkan di sana banyak orang menangis karena musibah yang mereka sendiri tidak tahu kapan akan terjadi.

Selepas berbuka puasa, kami pun mendatangi lokasi Posko Kebakaran Benhil, selasa (14/6). Posko yang dikomandoi oleh Ketua Pokdar (Kelompok Kesadaran) Kamtibnas Tanah Abang Bobby dan wakil LSM Joice sudah dipenuhi oleh barang-barang bantuan dari warga. Cukup menggembirakan, di tengah carut marut kepentingan elit politik di tingkat atas negeri ini, masyarakat kita masih sangat peduli dengan saudaranya. Saat itu hati saya bagai tersiram es, sungguh adem. 

Kami berbincang dengan Bobby dan Joice mengenai kebutuhan korban saat ini. Menurut Bobby, bala bantuan berupa pakaian bekas sudah sangat melimpah. “Pakaian sudah sangat banyak yang ngasih. Mbak dan Mas bisa cek ke lokasi langsung, pakaian menumpuk dan bisa jadi alas tidur karena banyaknya,” tutur Bobby.

Joice mengiyakan rekannya itu. Menurutnya, selain pakaian bekas yang menumpuk jumlahnya, ketersediaan sembako juga sudah cukup banyak. Posko akan mengordinir sembako itu ke dalam paket-paket berjumlah lebih dari 500-an. “Sembako-sembako inilah yang akan kita bagi per paket. Setiap keluarga dapat 1 paket. Ini kita lakukan biar penyalurannya merata,” kata Joice.

Bobby menambahkan, saat ini anak-anak membutuhkan perlengkapan sekolah, karena (28/8) pekan depan mereka sudah mulai masuk. “Kemarin malam (13/6) posko kita didatangi anak-anak. Mereka menanyakan buku, alat tulis, tas dan perlengkapan sekolah lainnya. Mungkin itu yang anak-anak butuhkan saat ini,” ungkap Bobby.


Mengungsi di Atas Makam

Kami akhirnya memutuskan untuk membelikan adik-adik di Benhil perlengkapan sekolah. Sisa dana Bukber Anak Yatim Piatu di Kalideres dan beberapa donatur tambahan lainnya sudah siap dialokasikan. Waktu persiapan yang hanya satu setengah hari membuat kami agak bergegas. Apalagi banyak toko perlengkapan sekolah sudah tutup karena ditinggal pemiliknya mudik lebaran. Akhirnya, setelah mengeksplorasi kawasan pasar Mayestik kami mendapatkan apa yang dicari. Kami membaginya menjadi 50 paket yang berisi tempat pensil, buku dan alat tulis. 

Setelah berbuka kami meluncur ke lokasi. Paket perlengkapan sekolah pun langsung kami kasih ke posko. Terus langsung pulang? Oh tidak, bukan Gempita namanya kalau hanya puas menyalurkan tanpa berinteraksi dengan warga korban kebakaran termasuk anak-anak di sana. Kami berjalan kaki menuju ke lokasi pengungsian. Di situlah rasa penasaran saya makin menjadi-jadi, “apa iya mereka tidur di atas makam?”

Bendera Ormas dan Partai Politik sudah terpampang menantang angkasa tepat di depan lokasi pengungsian. Posko-posko juga mereka tancapkan di sana. Motifnya? Silahkan dianalisis sendiri. Saya berharap mereka ada di sana karena alasan kemanusiaan bukan kepentingan politiknya. Ya, semoga.

Tidak jauh dari posko tersebut, anak-anak sedang riang bermain dengan sesamanya di atas pakaian-pakaian bekas yang bertumpuk. Senyum optimistis mereka lah yang membuat kami mendatangi dan berinteraksi dengannya. Memang, tidak semua anak yang bermain di sana adalah korban kebakaran. Tapi kebakaran ini menyatukan mereka. Ya, selalu ada nilai positif dari setiap musibah.

Kami pun melewati gang senggol yang di kiri-kanannya rumah hanya tinggal pondasi. Ternyata kawasan tersebut adalah pemukiman padat penduduk dengan luas rumah kira-kira 5x10 meter. Di akhir lorong, baru tampak jelas apa yang menjadi pertanyaan saya selama dua hari ini. Benar, mereka tinggal di atas makam Karet Tengsin beralaskan kasur buntal palembang hasil sumbangan masyarakat dan beratapkan terpal. 

“Iya mas, pada tidur di atas makam. Kamar mandinya ada di ujung sana, di WC umum TPU (Karet Tengsin). Habis mau gimana lagi, yang ada hanya di sini. Kan ini juga sementara, beberapa minggu ke depan kita harus sudah nggak di sini,” ujar salah satu korban dan Koordinator Penyaluran Bantuan Juju.

Tugas Juju tidak bisa dikatakan ringan. Ia mendata kebutuhan warga yang mengungsi di pemakaman. Sulit? Iya, karena ia harus membagi perasaannya sebagai korban kebakaran dan juga relawan yang membantu para korban lainnya.

Kini, Juju dan ratusan korban kebakaran dihadapkan pada dua hari perayaan, kemerdekaan RI (17/8) dan Hari Raya Iedul Fitri (19/8-20/8). Tradisi mudik Lebaran boleh saja terlewatkan oleh korban kebakaran ini, tapi esensi kemerdekaan dan hari kemenangan wajib mereka rasakan seperti halnya kita. Justru keterbatasan mereka melecutkan semangat kita untuk tersadar dari tidur panjang dan kursi nyaman kita. Manusia itu makhluk sosial kan, temans? Yuk bagi senyum kita.


Suara Malaikat Kecil Dari Cipayung







Foto Dan Artikel Oleh : Ryan Botax

Kita punya mimpi. Begitu pun anak-anak di panti asuhan tunas bangsa ini. Mereka ditelantarkan orang tuanya. Dilempar ke dunia yang bising seorang diri. Mereka hidup bersama puluhan anak dengan latar belakang sama, dibuang dan dipaksa untuk hidup tanpa kasih sayang orang tua.

Jangan pernah bunuh mimpi mereka!

Sabtu (7/1/2012), saya bersama teman-teman Gempita main ke Panti Asuhan Tunas Bangsa, Cipayung. Tempat yang cukup teduh bagi 63 anak bibit bangsa yang dipaksa pergi jauh dari kehidupan layak, hidup tanpa keluarga. Mereka kehilangan kasih, yang mereka harapkan. Kehilangan sentuhan yang mereka inginkan. Kehilangan figur yang kelak mereka banggakan, orang tua. 

Jati, balita 4 tahun langsung menubruk saya, sesaat setelah saya membuka pintu kamar tempat 20an anak usia 2,5 sampai 5 tahun itu tinggal. Bukan hanya Jati, 10-an anak menarik-narik saya untuk minta digendong. "Botaaaak botaaaakkk botaaaakkk," teriak mereka. Saya pun mendapat serbuan berupa keplakan ke kepala berkali-kali. Kalau yang mengeplak saya adalah orang sebaya yang tidak akrab, ataupun polisi sok aksi mungkin kepalan tangan saya yang akan melayang ke mukanya. Tapi ini beda, keplakan malaikat-malaikat kecil ini serasa elusan hangat bagi saya. Mereka butuh kasih sayang, bukan hujatan ataupun cercaan. Dan saya pun larut dalam suasana riang. Tak lama, jam makan pun tiba, dan mereka menyerbu ruang makan.

Selama berada di sana saya merenung, betapa beruntungnya kita yang hidup dengan orang tua, minta ini itu mudah, makanan tersedia di meja, kamar personal ada. Dengan segala kelebihan pun kita cenderung masih kurang puas, membentak orang tua pun kita lakukan demi menyatakan bahwa kita yang paling benar. Sedangkan mereka, dipaksa untuk menghirup udara panti, dan tak tahu kemana perginya orang tua mereka dan dengan alasan apa mereka dibuang. Kalau mau marah, mereka lah yang seharusnya marah ke orang tua mereka kelak nanti.

Pelajaran berharga hari itu bukan karena kita menyisihkan pendapatan kita untuk menyerahkan bantuan ke panti, tetapi makna keceriaan yang selalu dipancarkan oleh wajah-wajah tanpa dosa ini. Kita sudah terlalu muak membayangkan kondisi politik Indonesia yang carut marut, kehidupan sosial pun sudah membusuk seiring dengan jurang pemisah yang lebar antara si miskin dan si kaya. Sudah waktunya kita menyadarkan diri kita untuk menghirup udara-udara sosial yang tadinya dibekap oleh jabatan, jenjang karier, dan harta. Sadari, di sekitar masih banyak teman-teman yang tidak seberuntung kita.

Saya yakin, 63 anak di sini dan jutaan di luar sana punya mimpi. Merekalah bibit muda penerus bangsa ini yang kelak akan menjadi Hatta, Gusdur, Munir, Widji Thukul, Sri Mulyani, Kartini, Jokowi, Anies Baswedan atau Iwan Fals generasi baru. Merekalah yang kelak menggubah nada-nada Indonesia Raya menjadi sebuah lagu yang tidak hanya pantas didengar kala upacara. Mereka yang akan membuat undang-undang dasar 45 lebih bermakna dari sebuah tulisan tempelan. Mereka yang akan menjadikan burung garuda terbang tinggi mengepakkan sayapnya, dari sekedar sebuah hiasan dinding dan berdebu pada masa orde baru. Mereka yang akan kelak membumikan pancasila dari sekedar omong kosong belaka dan silat lidah anggota DPR dan pejabat. Dan Mereka yang akan mengevaluasi dan menjalankan perjuangan reformasi yang telah dilakukan setengah hati oleh orang-orang yang berteriak dan sekarang nyaman duduk di kursi. Ya mereka!

(dipublish juga di http://www.suduthampa.blogspot.com/)